Wawancara dengan Bung Natsir 1976

 

Membaca wawancara Bung Natsir pada tahun 1976, setelah beliau pulang dari World of Islam Festival di London, Ia hadir sebagai wakil dari Indonesia, pembukaan acara pada waktu itu pada tanggal 3 April 1976, oleh Ratu Elizabeth.

Tokoh yang akan saya ceritakan kembali bernama Moh. Natsir Datuk Sinaro Panjang. Menurut Darsjaf Rachman, seorang wartawan senior, melukiskan Bung Natsir sebagai sosok teman berbicara, bertukar pikiran, menarik, pembicaraan untuk permasalahan dapat dimengerti dengan baik, jawaban cepat dan mudah dimengerti. Saat itu Bung Darsyaf Rahman, melakukan tanya jawab spesial dengan Moh. Natsir Datuk Sinaro Panjang, berusia 68 tahun pada tanggal 17 Juli 1976. Tetapi menurut Bung Darsyaf Rahman, untuk seusia beliau, gerak-gerik masih terlihat cepat, kemampuan daya pikir masih tepat, langkah-langkah masih tegap. Ada keringat di pipi dan dahi beliau karena hawa panas ruangan kerja  berukuran 4×3 meter. Beliau adalah wakil presiden dari  World Muslim Congress (Kongres Islam se-dunia) dan ketua dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.

 

Saya akan kembali mengajak kesuasana ruangan Moh. Natsir dan Darsyaf Rachman melakukan kesempatan wawancaranya dengan tokoh besar Indonesia. Beberapa pertanyaan di antaranya terpaparkan dengan jelas dan belum pudar, kita akan suguhkan kembali. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih kembali pada tahun 2017 ini , atas kesediaan Bung Natsir menjawab pertanyaan-pertanyaan serta memberikan waktu serta kesempatannya memberikan ilmu pengetahuan untuk generasi kami dan mengucapkan terimakasih kepada Darsyaf Rachman atas waktu, profesionalitasnya sebagai wartawan, serta kecermataannya untuk menanyakan hal-hal penting dalam proses sejarah kita.  Untuk Redaksi Sari Pers, saya mengucapkan terimakasih atas tulisan-tulisan sejarah yang tercatat rapih dan jelas, sudah beberapa kali saya mencoba untuk melakukan hubungan komunikasi lebih jauh kepada pihak Redaksi untuk saling tatap muka, komunikasi serta bersilahturahmi untuk membicarakan sejarah bangsa Indonesia agar generasi penerus mengetahuinya dengan baik , bangga dan mempunyai karakter kebangsaan dikemudian hari untuk bangsa dan negara.  Waktu akan berubah cepat, tetapi sejarah akan tetaplah sejarah yang mempunyai arti penting untuk bangsa besar Indonesia.

Darsyaf Rahman (Wartawan Senior): Apakah benar, bahwa hampir 500 tahun lamanya dunia kebudayaan barat meremehkan kebudayaan dan  peradaban islam, karena barat melihat kelumpuhan kreativitas dan kurangnya tanggung jawab dunia islam terhadap perkembangan kemajuan dunia seluruhnya. Dan dengan adanya Festival Dunia Islam di London itu, seolah-olah dunia barat memukul gong pertama kembali agar perhatian barat dan dunia bangkit kembali untuk mempelajari dan meneliti mutiara-mutiara yang tersimpan dalam dinamika hakekat ajaran islam?

Bung Natsir (Moh. Natsir Datuk Sinaro Panjang) : Kalau dikatakan, bahwa dunia Barat tidak mempedulikan dunia islam kira-kira 500 tahun , maka boleh dikatakan “ya” dan boleh dikatakan “tidak”. Di satu segi Ya, di segi lain Tidak. Tergantung dari segi apa kita mellihatnya. Perhatian mereka dalam bentuk eksploitasi politik dan eksploitasi ekonomi bukan main besarnya. Yang diperhatikan oleh orang barat bukan kebudayaan islam, tetapi kekayaan umat islam, yang dibawanya ke negerinya untuk industrinya yang telah maju. Dan mereka menjadikan negeri- negeri umat Islam sebagai daerah pemasaran barang-barangnya. Perhatian dunia Barat hanya tertuju kepada segi-segi politik dan ekonomi; mereka melakukan eksploitasi di bidang politik dan ekonomi terhadap umat Islam. Sehingga akibatnya ratusan juta umat Islam berada di bawah telapak kaki penjajahan Barat.

Adapun terhadap bidang kebudayaan Islam, orang Barat, dalam arti khalayak ramai (masyarakat) boleh dikatakan tidak ada perhatiannya. Akan tetapi, yang memperhatikan kebudayaan Islam itu adalah sarjana-sarjana Barat, para orientalis-orientalis, yang telah menghabiskan umurnya menggali hasil-hasil kebudayaan Islam di bermacam-macam bidang. Umpamanya saja, di bidang theology, perundang-undangan, falsafah, sastra (prosa dan puisi), science dan segala cabangnya, kedokteran, arsitektur, kesenian dan lain-lain.

Tetapi hasil karya para sarjana dan orientalis itu, tersimpan saja dalam museum-museum dan buku-buku di perpustakaan universitas dan hanya dibaca dan dipelajari, oleh mahasiswa yang mau mencapai PH.D. dalam Islam atau dalam ilmu comparative religion (ilmu perbandingan agama), huruf biasa dan yang semacam itu. Khalayak ramai dunia barat, tidak tahu. Mereka tidak dapat menilai Islam itu sebagai sumber kebudayaan. Oleh karena itu, maka timbul initiative pada beberapa orientalis di Inggris untuk menggunakan Festival Dunia Islam di London  sebagai media, saluran untuk menghidangkan khlayak ramai di dunia barat secara visual dan auditif (pandangan mata dan pendengaran) melalui pers, radio, televise, lectures, concert dan penerbitan- penerbitan, tentang apa pencapaian Islam di bidang Kebudayaannya. Semua dihidangkan secara popular, sehingga khalayak ramai dengan mudah dan cepat dapat menanggapinya. Di sinilah letak fungsi festival itu sebenarnya. Ide festival itu timbul dari kalangan sarjana-sarjana barat yang sudah kenyang dengan pengetahuan islam, dan ingin pula memperkenalkannya kepada khlayak ramai Islam sebagai sumber kebudayaan, dan apa yang telah dicapainya di bidang itu.

Dan sebagai pengaruh- sampingan (side-effect), sesudah festival itu, orang-orang barat akan bertambah terangsang mempelajari mendalam tentang Islam. Festival Islam di London itu, dilihat dari sudut “mass education”(pendidikan massa), merupakan sukses, berhasil. Man on the street (orang awam)mendapat informasi tentang islam dan kebudayaanya selengkap mungkin, dalam waktu singkat, dan secara ilmiah juga dapat dipertanggung jawabkan.

 

Darsyaf Rahman (Wartawan Senior) : Betulkah festival Dunia Islam di London itu merupakan titik permulaan manifestasi kembali kesadaran kebangkitan dunia islam, dengan memperlihatkan daya kreativitas dan aktivitasnya di masa-masa yang lampau dan dengan demikian secara visual dan intelektual, hendak menarik perhatian dunia Barat, bahwa ajaran Islam dapat menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi oleh dunia modern sekarang ini?

 

Bung Natsir (Moh. Natsir Datuk Sinaro Panjang) : Usaha-usaha semacam itu sebenarnya telah dijalankan oleh organisasi-organisasi dan sarjana-sarjana Islam di Eropa maupun di Amerika, dan bukan semata-mata dalam festival ini. Tetapi sudah bertahun-tahun sebelumnya. Mula-mula sekitar tahun 60-an telah diadakan di kota-kota yang terpenting di Eropa Barat, apa yang dinamakan Islamic Centres (markas-markas Islam), Islamic Associations( perhimpunan-perhimpunan Islam), baik di kalangan masyarakat bangsa-bangsa itu ataupun di kalangan universitas-universitas dan kalangan para cerdik pandainya. Adapun tujuan markas-markas atau perhimpunan-perhimpunan Islam ialah:

  1. Untuk melayani keperluan masyarakat Islam (Islamic Community) sebagai bagian minoritas di Eropa yang berkenaan dengan kewajiban beragama, umpamanya shalat jumat, penentuan waktu shalat, puasa, lebaran, khitan, kawin, urusan warisan dan lain-lain.
  2. Untuk memberi penerangan ke dalam lingkungan umat Islam sendiri dan terhadap golongan di luar jemaah  Islam itu. Tentang aqidah, syariah dan ajaran-ajaran Islam, dengan  cara yang mudah dipahami dan mudah diterima itu oleh masyarakat yang menamakan dirinya modern sekarang itu. Penerangan-penerangan itu dilakukan dengan cara periodik, dimuat dalam majalah bulanan atau majalah triwulan dan juga mengundang berceramah sarjana-sarjana islam dan ulama-ulama Islam dari luar Eropa.

Ceramah-ceramah semacam itu juga terbuka bagi peminat-peminat yang bukan Islam. Pada tahun 1973 Tengku Abdurrahman, ex Perdana Menteri Malaysia , Sekjen konferensi menteri-menteri luar negeri Islam,mengadakan suattu tindakan yang sangat progresif. Di undangnya seluruh Islamic Centre dan Association yang bertebaran di Eropa Barat untuk bertemu di London. Pada waktu itulah didirikan “Islamic Council of Europe” yang bermarkas di London. Dan I.C.E inilah sekarang yang merupakan badan kordinasi  dan pembimbing dari markas-markas Islam yang ada di seluruh eropa, seperti di Skandinavia, Belanda, Berlin , Roma, Yugoslavia, dan Inggris. Islamic Council of Europe inilah yang mengadakan “International Islamic Conference”( Konferensi Islam se-dunia) bersamaan dengan festival dunia Islam di London, atas kerja sama dengan panitia festival I.C.E. mengundang tidak kurang dari 40 sarjana, pemuka-pemuka, ulama-ulama Islam dari seluruh dunia Islam untuk memberikan prasaran, uraian dan kupasan tentang segala aspek dari Islam.

Jadi, antara festival dunia Islam itu dan I.C.E. terdapatlah kerjasama yang saling isi mengisi. Kalau diringkaskan, apabila festival dunia islam memperlihatkan kejayaan Islam pada jaman yang lampau ( The glory of the past), maka Islamic international conference dengan sidangnya yang diikuti oleh ribuan pendengar dari dunia timur dan dunia barat dari bermacam-macam agama setiap malam selama 11 hari, mencanangkan kekuatan apa, berupa kekuatan-kekuatan rohaniyah dan aqliyah, yang telah memancarkan hasil-hasil kebudayaan Islam yang telah diperlihatkan oleh festival di London itu. Yakni : Nilai-nilai Dinul Islam yang bersifat universal yang diperlukan oleh umat manusia, di zaman lampau, di zaman sekarang dan di zaman yang akan datang untuk hidup sebagai manusia budaya(cultured human being) dalam arti sebenarnya.

 

 

Darsyaf Rahman (Wartawan Senior) : Bagaimanakah pendapat tentang kenyataan ini, yaitu bahwa Dunia Islam , termasuk negara-negara Islam dewasa ini, juga negara-negara yang sebagian rakyatnya memeluk agama Islam, jauh sekali ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, di bidang ekonomi dan industry yang merupakan tulang punggung kekuatan negara-negara Barat, termasuk Rusia Komunis?

 

Bung Natsir (Moh. Natsir Datuk Sinaro Panjang): Memang begitu! Sebagai akibat dari pada penjajahan yang berabad –abad lamanya oleh bangsa-bangsa Barat, yang tidak memungkinkan umat Islam memperkembangkan bakatnya sebagai anak jajahan. Sebenarnya penjajahan ini bukan saja penyebab merosotnya umat islam, tetapi akibat dari faktor-faktor di kalangan umat Islam sendiri, yang tadinya telah meninggalkan ajaran-ajaran agamanya yang telah dibawanyan ke tempat-tempat yang tinggi dulu itu. Akan tetapi garis merosot itu berhenti pada dasa-warsa ke –II dari abad ke –XX ini. Sebagaimana umat Islam tadinya yang sudah sampai kepada puncak kejayaannya menjadi lemah oleh karena factor-faktor dari dalam, demikian pula rupanya bangsa-bangsa barat yang sudah dapat mendominir seluruh dunia Islam semenjak pesisir Indonesia sampai ke pantai-pantai Atlantik pun pecah dari dalam dengan meletusnya Perang dunia ke-1. Maka semenjak itu wilayah-wilayah Islam yang dijajah itu menggalang tenaga mereka, mengadakan perjuangan yang koordinatif untuk melepaskan diri dari penjajahan satu demi satu.

Dewasa ini boleh dikatakan mereka sudah sampai di akhir tahap pertama dari perjuangan, yaitu membebaskan diri dari penjajahan bangsa asing. Semenjak tahun 60-an mereka mulai menyusun tenaga untuk meningkatkan kemampuan mereka di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, ekonomi, politik, teknik dan lain. Sekarang ini dalam waktu yang singkat ternyata bahwa, asal mereka mendapatkan kesempatan, mereka, qua intelek tidak kalah dari orang barat. Sudah berapa banyak putera-putera islam sekarang ini yang telah mencapai derajat Ph.D. yang bekerja di Amerika, Eropa Barat( United Kingdom), sebagai professor di universitas-universitas, sebagai sarjana riset pada instansi-instansi kenegaraan?

Mereka belum bisa pulang ke negeri asal mereka, karena pengetahuannya sudah begitu tinggi, belum dapat ditampung, atau dimanfaatkan oleh negara mereka masing-masing. Suatu contoh, seorang Ph.D. dalam ilmu geologi, bernama Farouk Al-Baaz(pemuda Mesir) semenjak beberapa tahun telah bekerja dalam team persiapan projek Apollo untuk memilih tempat pendaratan di bulan yang paling tepat bagi setiap penerbangan, ditilik dari sudut geologi bulan itu sendiri. Tapi namanya, tak pernah tersiar.

 

Darsyaf Rahman (Wartawan Senior) : Bagaimana tentang pertumbuhan demokrasi di dunia Islam yang baru melepaskan diri dari penjajahan?

 

Bung Natsir (Moh. Natsir Datuk Sinaro Panjang): Kita harus mengakui suatu kenyataan yang menyedihkan. Yaitu cita-cita demokrasi yang pada hakekatnya menjadi sumber kekuatan untuk melepaskan diri dari penjajahan, nyatanyatidak terealisir sesudah kemerdekaaan dari penjajahan asing itu tercapai. Malah Banyak di antara bangsa-bangsaitu yang mengalami diktatur dalam bermacam-macam bentuk dan gayanya pula. Menurut hemat saya, negara yang baru lahir kembali sebagai negara merdeka itu, masih berada dalam periode, apa yang disebut oleh ahli-ahli kesehatan sebagai “penyakit kanak-kanak” (kinderziekten) yang mau tidak mau, harus dialami dalam beberapa waktu.

Cepat atau lambatnya tercapai suatu perkembangan yang lebih memuaskan cita-cita itu, tergantung kepada usaha-usaha pecinta-pecinta dan pembela demokrasi, yang tentu ada, tetap ada, hidup dalam tubuh tiap-tiap bangsa. Walaupun ibarat sinar lilin yang kecil ini, dengan berbagai cara apapun juga, sebagai Kalimah Hak, tidak dapat dimatikan oleh tangan manusia di mana saja dan kapan saja. Bukankah di bawah telapak diktator komunis di Rusia, yang begitu keras dan ketat, masih tetap menyala jiwa seorang Solzhenitsyn dan kawan-kawan sepahamnya, terus menerus, patah tumbuh hilang berganti…!

Bung Natsir tersenyum sambil menentang mata saya. Seolah-olah ada yang sedang diucapkannya, tanpa kata-kata.

***

Sumber & Foto : Redaksi Sari Pers

Perihal:  Sejarah (Wawancara dengan Bung Natsir)

Tahun peristiwa: 17 Juli 1976

Wartawan : Darsjaf Rachman

Ditulis Ulang: 19 Juli 2017

Alasan saya menuliskan kembali wawancara ini agar kelak di kemudian hari, selembaran-selembaran ini menjadi abadi ditelan jaman, tidak dilupakan para pembaca sejarah, memahami negarawan besar yang dimiliki bangsa Indonesia jaman dahulu,serta kertas-kertas ini tidak lapuk dimakan jaman dan rayap pemakan sejarah. Kumpulan sejarah ini saya temukan bersama buku-buku bekas lainnya, terdampar, berdebu dan hampir terbuang kedalam pembakaran sampah. Kami bersama teman-teman membacanya satu persatu dan berpendapat bahwa ini adalah hal penting untuk dibagikan, diketahui para generasi jaman yang akan datang.

Bagaimana keadaan umat Islam kini di Indonesia?

Apakah kita melupakan sejarah para tokoh negarawan bangsa kita sendiri?

Kapan kita umat Islam akan bangkit kembali bersama dunia-dunia barat lainnya untuk memajukan keutuhan dunia?

Siapakah negarawan Islam di Indonesia yang mempunyai pemikiran seperti Bung Natsir?

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s