Puisi Pendek Penjaga Buah Kecapi

 

Bermain di kebun, setiap hari selesai sekolah, tidak ada handphone dan game kinetik, terus berjalan menempati alam serta ruang pengalaman yang baru.

Kode panggilan bersiul nyaring, kami berkumpul dalam kebun. Satu persatu datang, berbicara rencana dan aksi.

Perkebunan buah, terpagar kawat, rumah tua menjadi penjaga, sumur air menjadi usang tak terpakai. Melongarkan penghalang, menerobos masuk, tersenyum senang, semua buah tergantung matang.

Rumah pembakar arang tak lagi usang, belum rubuh beralaskan tanah. Bapak tua dengan golok dipinggang, membersihkan kebun dalam kesunyian.

Buah kecapi, manis rasanya, daging putih halus menempel di dalamnya, kuning warna luarnya berarti matang,   entah dimana tidak tahu rimbanya, hilang pudar ditelan jaman.

Kami pulang dengan karung dipundak, berbagi buah untuk tetangga dan orang yang lewat, terimakasih bapak tua penjaga buah kecapi, entah dimana kami akan mencari.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s