Puisi Pendek Cahaya Purnama

 

 

Ketika tongkat peri bintang melawan palu kayu

Melihatmu dalam undang-undang manusia, terkulai lemah kata-kata, terdengar tuli tanda baca, terkesiap bisu dalam ungkapan pembelaan.

 

Tak lagi hati berpihak pada peradilan, hanya peraduan jeruji kita berbagi cerita dan pengalaman hidup. Tak lagi suara kebenaran menjadi cahaya purnama, tetapi cahaya lainnya akan selalu ada untuk bersinar bersamamu.

 

Barisan kotak membentuk ruang telaga, mengisinya hanya tidak dengan warna tetapi aura jiwa.  Garisnya tidak membentuk kotak tetapi menjalar menembus akar pikiran.

 

Kotak, garis, cahaya, angka,  warna, suara, gagasan, jeruji besi, kebenaran dan api kecil akan terus menyala menjadi sumber kekuatan yang tidak bisa ditahan untuk dimusnahkan.

 

Jeruji dingin memberikan suaranya, dalam ruang dan waktunya. Gelap akan kembali berkemilau, untuk bersatu dengan warna lainnya.

 

 

 

 

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s