Surat Dari Cakrawala

Hi,  Saudaraku Rimba,,,

Bagaimana keadaanmu dialam belantara hijau saudaraku, mudah-mudahan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.

Aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada putramu yang bernama Bumi, salam dariku di lautan biru.
Berbicara tentang suratmu tanggal 26 Juni, aku sepakat dengan pendapatmu tentang budaya alam pariwisata, bahwa suatu bentuk kepemilikan alam harus dibatasi, tidak tercampur dalam pola pikir birokrasi.

Saudaraku…aku tertarik dengan paket wisata hutanmu,
kemarin aku melihat post card sebuah gambar lahan daratan berwarna hijau menjadi benteng-benteng kerajaan penguasa, terselip diantara perbukitan luas dengan berdirinya bungalow lengkap dengan antena parabola dan juga kolam renang.

Paket rumah kaca berderet saling berhimpitan, bar, café, message dan refleksiologi.
Kenapa tidak dibangun saja tempat perkantoran dan Mall?.

Apakah ini sebuah penghargaan terhadap alam pariwisataku!
Ingatlah, aku manusia yang hidup dengan alam bebas dan lautan. Alam semesta adalah sekolahku, pendidikanku untuk mencari kebenaran dan tertunduk agung kepada pencipta.
Darahku masih pribumi…saudaraku, serasa pilu hati ini melihat alam bermainku hancur tertimpa mesin-mesin besar dan bangunan tinggi menjulang memecah langit.
Berbicara tentang hutan pariwisata, kita harus bersikap bijaksana.
Siapa yang bertanggung jawab apabila alam raya meminta harga manusia yang mati karena alam sudah menjadi ladang bisnis?
Kenapa tidak menanam ladang jagung agar musim paceklik kita masih bisa makan.
Mungkin saja para investor sudah menghitung nasib korban manusia,ketika datangnya bencana alam.

 

Hujan deras langsung menghantam desa-desa kecil yang ada di kaki pegunungan, air hujan turun ke desa dengan batangan-batangan kayu besar menghantam bilik-bilik bambu tempat tinggal masyarakat.
Mereka tidak pernah mengalami guncangan hebat sebelum pihak developer dan investor bercokol menggerogoti pegunungan dan membabat hutan rimba.
Saat aku melewati sebuah kepulauan kecil yang indah di sebelah timur pulau Maluku, yang tampak dari atas kapal adalah dunia hijau yang sangat lebat. Tetapi ketika sampai diperbatasan lautan yang berwarna biru muda tampaklah penghancuran alam wisata bawah laut yang dilakukan para nelayan.

 

Bagaimana nasib tempat bermain ikan-ikan kecil,terumbu karang yang berumur jutaan tahun hancur dengan bunyi “Buuoommm” sekejap oleh jentikan jari manusia.

 

Sungguh berbahaya makhluk manusia, hati-hati bila berhadapan dengan manusia seperti ini .
Ledakan bergema seperti godam raksasa, air biru berhamburan naik menghantam udara bebas yang terkena cahaya matahari senja.

Seperti kilauan berlian berlomba mencapai puncak udara yang paling tinggi mencuat terbang. Butiran biru terpaksa keluar dari kedalaman menghentak dalam keterdesakan kondisinya.
Maafkan aku saudara…
Aku tidak bisa berpihak pada penghancur alam yang berkedok pemerintahan. Saat inilah aku percaya bahwa negara tidak berdekatan dengan rakyat, penampilan alam pariwisatapun mereka lahap tanpa meninggalkan sisa.
Hanya ribuan jenis penyakit baru yang siap menghantam penduduk desa setempat dan hutan-hutan tandus hasil dari pekerjaan mereka semua.

Apakah ini suatu bentuk budaya manusia?

Mungkin saja setelah mereka melihat kebenaran dalam penghancuran.
Angin lautan selalu membawaku ke daratan, dimana manusia selalu datang ke pelabuhan untuk membeli barang-barang yang tidak diperjualkan secara legal.

Kemarin ada beberapa petugas menghampiriku dan memeriksa bagian dek kapal untuk melihat barang bawaanku. Mereka pikir aku seorang pembajak di tengah lautan, aku jadi berpikir kembali sebenarnya siapa yang suka membajak hak milik orang lain?
Sahabatku…hal seperti ini tidak dapat diselesaikan dengan angkatan bersenjata. Militerisme sudah tidak dapat diperjuangkan sebagi alat yang netral untuk melindungi alam-alam semesta, mungkin saja salah satu tokohnya menjadi penguasa eksploitasi alam terbesar. Aku sempat membaca surat kabar, head line beritanya tentang kasus Ilegal logging. Mereka hanya membakar dan menghancurkan alam rimba.
Sahabatku Rimba…alam hijau sudah saatnya menjadi tempat yang tidak boleh dirusak oleh siapapun.
Biarkan mereka tumbuh dengan awal tunas lalu berkembang menjadi batang yang dapat menopang manusia, sungguh luar biasa alam memberikan kebesaran-Nya untuk menjaga keseimbangan hidup manusia.

Rimba, sebuah nama yang singkat tetapi mengandung pengertian padat. Tampaklah terlukiskan hijau lebat penuh dengan kejutan. Ia selalu berpergian untuk mencari komunitas baru di pedalaman hutan belantara.
Seorang aktivis muda berpenglaman dan sudah teruji rasa nasionalisnya untuk pengembangan paket pariwisata alam hijau, Rimba dapat menemukan pulau-pulau yang tidak tercatat di peta dan ia dapat menemukan hutan-belantara yang tidak pernah tersentuh oleh tangan-tangan investor juga pemerintah setempat.

 

Ketika ombak lautan naik menghantam tepi pantai, matahari sudah mulai setengah tiang sedikit ke arah barat. Samudera luas seperti kilauan batu permata yang berkelip dari dasar lautan biru.
“Ayo kawan, kita ketengah untuk mendapatkan ombak yang bagus”
“Siapa yang paling cepat dan tidak terjatuh”
“Dia pemenangnya”
“Ayo Rimba…”
“Aku akan memberikan bir terbaik (red. Minuman kaleng) untukmu kawan”
“Ha..ha..ha..ha”Mereka bersuka dalam gelombang air.
“Kaulah yang terbaik kawan”
Papan Surf melenggok kekiri dan kekanan, bergerak lurus dengan cepat menjaga keseimbangan tubuh, menerobos arus-arus gelombang, bermain dengan air lautan berwarna berlian.

 

Rimba hebat memainkan papan surf, dia mempunyai komunitas bersama untuk menjadikan tempat pelestarian alam sebagai pariwisata milik dunia. Dengan beragam ide kreatif mereka menjadi kekuatan besar untuk ikut menjaga pariwisata alam.
Perjalanannya selama ini telah menghasilkan hasil yang cukup memuaskan bagi perkembangan makhluk hidup di hutan belantara, ia membuat hasil klafisikasi makhluk hidup dari beberapa rimba yang ada di beberapa negara. Rimba meneliti jenis-jenis hewan serangga sampai tumbuhan yang terdapat di hutan belantara,menulis kerusakan hutan yang diperbuat oleh penambang liar, penebangan dan penanganan limbah liar.
Dalam masa studinya, Rimba mengambil jurusan Teknik lingkungan hidup.
Seluruh waktunya ia curahkan untuk meneliti pengembangan alam dan mengadakan riset tentang alam pariwisata dunia.

Prestasinya dalam memperjuangkan habitat alam sudah terkenal di beberapa negara Asia, kasus-kasus pembuangan limbah yang dikerjakan oleh penguasa disikapi dengan aksi protes Rimba melalui jalur hukum.
Ia membuat terobosan baru bersama team independen pencinta lingkungan yang membahas permasalahan lingkungan dan pelestariannya. Perjuangan Rimba untuk mempertahankan hutan sebagai alam pariwisata dunia sudah pada tingkatan internasional, contoh kasus kecil yang pernah ia menangkan bersama rakyat belantara ketika ia memperjuangkan petani karet di hutan,mereka tidak lagi dapat meneruskan hidupnya dengan alam karena alam hutan karet telah dimonopoli pihak pengusaha untuk menguras hasil hutan secara berlebihan. Harga karet yang diambil dari tangan petani dibeli dengan harga murah sedangkan pihak pengusaha memiliki areal hutan karet yang cukup luas. Apakah mereka sudah mempunyai izin untuk kepemilikan sebuah hutan belantara?

Ternyata mereka bermain suap dikalangan pemerintah maka oleh sebab itulah mereka berani menghabiskan hutan menjadi lapangan bola dan pabrik-pabrik limbah.
Pihak pengusaha tidak hanya mencuri hasil alam tetapi mereka mengerjakan proyek yang lebih luar biasa, yaitu merubah hutan hijau menjadi real estate dan areal peternakan.
Aksi demonstrasi dan diplomasi digunakan team kerja Rimba untuk mencari simpati masyarakat.
Alhasil yang sungguh mengejutkan, investor pemilik hutan dijebloskan ke penjara karena sudah melahap hutan hijau menjadi kepemilikan pribadi. Akhirnya pemerintah mengeluarkan hukuman bagi pengusaha tersebut dengan alasan pencemaran limbah dan penyelundupan hasil kayu hutan Indonesia.
Selamat tinggal penghancur alam! tetapi perjuangan belum selesai sampai disini.

 

Sebuah pulau di sebelah timur Indonesia menjadikan sebuah mimpi untuk Rimba, menyiapkan pariwisata alam yang berdampingan dengan manusia seutuhnya dan dilengkapi fasilitas modern seperlunya, semua yang dapat digunakan dari alam menjadi bentuk utama yang paling penting.
Alam belantara menjadi objek mengagumkan dan bangunan beton tetap menjadi milik kota.

 

Saat penglihatan memandang lautan biru berkilauan memantulkan ragam cahaya, ketika indera penciuman begitu peka mencium bau tumbuhan setelah hujan membasahi daun-daun, irama merdu membentuk alunan nada yang tersiulkan dari burung pemakan biji-bijian.
Hanya ingin berkata kagum atas pemberian hutan belantara. Sungguh kuasa pemilik alam semesta-Nya.

 

Warna putih yang tegap berdiri, penuh dengan rangka besi, bertahan seperti batu, membelah angkasa untuk melawan angin, setelah itu kilauan cahaya kaca jendela yang tidak pernah berubah terpancar cahaya matahari.

 

 

Tidak ada pembangunan beton-beton gedung di dalam hutan, dan tidak terlihat binatang-binatang yang terpenjara di alamnya sendiri. Mereka semua bebas berlari dan mencari makanan sesukanya bersama manusia di alamnya.
Rimba membuat sistem pemerintahan kecil ditempat tersebut ,memperkerjakan kawan-kawan setempat untuk menjadi masyarakat yang menjaga lingkungan alamnya sendiri agar dapat terus hidup tanpa harus lari dari desa hutan.

 

Masyarakat setempat menghargai alamnya dengan cukup baik, tidak menghabiskan alam untuk hal yang tidak penting.
Mereka mengambil secukupnya pada alam yang membesarkan mereka. Para pengunjung yang datang tidak dapat merasakan suasana hingar bingar seperti di tempat pariwisata alam kota.

 

Kemajuan teknologi tidak selalu mendapat peranan yang penting dalam hutan belantara karena dapat merusak tatanan bentuk masyarakat setempat.

Rumah peristirahatan terbuat dari kayu-kayu yang ada di hutan. Kalau ada wisatawan dalam negeri dan luar negeri yang ingin berlibur selama satu minggu, biasanya mereka memilih tempat spesial yang terletak disebelah timur punggung gunung. Alam eksotis tampak terlihat dengan jelas ketika sang matahari sudah menampakkan senyuman pagi ceria, pemandian sumber mata air hangat tersedia kapan saja tidak perlu memutar kran air.
Bunga-bunga tropis bermekaran menggoda mata memandang, memang cukup indah untuk disentuh.
Semua jenis tanaman tumbuh subur dan lebat karena iklim sesuai dengan alam. Kalau cuaca sedang baik, mereka dapat melihat ribuan cahaya di atas angkasa raya membentuk gambar dewa-dewa Astrologi, alam hutan biasanya dipenuhi pengunjung pada bula Juni sampai Agustus dan paling banyak mereka menginap saat malam bulan purnama menyinari semua bukit.
Pada waktu seperti inilah kita melihat kebesaran alam dan pencipta-Nya sungguh tidak terbayangkan keindahan pesona pariwisata alam.

 

Terlihat pepohonan yang besar, tinggi, berdiri dengan gagah seperti raksasa penjaga hutan. Lautan tampak tenang tidak seperti biasanya, nelayan biasanya tidak turun ke laut karena pada musim seperti ini ikan takut untuk naik kepermukaan.
Malam panjang untuk para nelayan melakukan pesta keci-kecilan bersama masyarakat setempat, bernyanyi lalu menengguk minuman khas tradisional.

 

Aku yakin sekali bahwa peradaban mereka lebih damai, kesatuan keakraban membentuk sistem kekeluargaan yang baik antara mereka dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Hanya nyala api ungun terlihat di tengah perkumpulan orang-orang, percakapan para pengunjung berbaur dengan masyarakat setempat.
Mereka bernyanyi bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil tertawa lepas dalam alam bebas.
Kesadaran yang tinggi terhadap alam dan tertunduk akan kuasa-Nya membuat Rimba bersyukur karena dilahirkan dalam lingkungan alam pariwisata.

 

Ketika mata pertama kali melihat ,hanya warna hijau lebat memenuhi suasan pikiran hatinya tentang dunia luas. Bunyi kicauan burung-burung terbang dan hewan berjeritan memanggil untuk bermain bersama.

 

Ringkas berita dari surat ini aku rasa cukup panjang sahabatku… Rimba.
Mereka harus bisa menghargai alam sebagai tempat pariwisata makhluk hidup, tanpa manusia sebagai penghancurnya.

Samudera lautan biru menuju perairan Thailand.
Dari Cakrawala sahabatmu,
Nakhoda kapal alam bebas, Selasa 30 Juni 2005.

NB. Sebagai kado ulang tahun untuk bumi. Jadikanlah bumi untuk sesuatu yang bermanfaat janganlah menjadi manusia perusak kelestarian alam.

NB. Untuk investor, jangan tersenyum dan tertawa dahulu karena perjuangan kami untuk alam pariwisata akan tetap berdiri dan berlari tanpa campur tangan pihak investor. Ingatlah “banyak cara menuju Roma”.

 

Untuk duta pariwisata, kembangkan alam semesta tanpa menjual harga diri alam, kalau kalian mengambil berlebihan terhadap alam. Aku bersumpah bahwa kalian akan ditelan oleh belantara rimba yang lebat.

 

Pemerintah, bersikaplah untuk kemajuan alam raya bukan bersikap sebaliknya untuk menghancurkan dunia makhluk hidup.

Salam  [fiq]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s