Obrol Bersama Pak Pek Petani Bali dari Ubud

Angin berhembus perlahan,kicau burung,pohon yang bergesekan,suara bebek dan kincir angin kayu.
Segelas kopi hitam sudah masuk melewati tenggorokan bersama pemandangan alam. Tempat bangku kayu terlihat usang tapi kuat untuk bersandar menikmati sore. Ternyata benar,saya bertemu dengan penduduk lokal setempat. Obrolan dimulai dengan lancar dan senyuman.

Petani dari Ubud di daerah Bali yang saya temui secara tidak sengaja di bangku santai,sambil mengisap tembakau terakhir dan petani bernama bapak Pek,mengunyah pinang.
Saling menyapa dengan menggunakan bahasa daerah,berjabat tangan bersahaja. Tangannya kokoh,kuat,basah,penuh pengalaman bercocok tanam.

Senyum pertama dari Pak Pek membuat hati saya senang karena dia mau sedikit obrol bersama saya.

Bercerita tentang desa dan apa yang dilakukannya setiap hari. Petani penggarap sawah berumur 70 tahun,tetap semangat bekerja untuk kehidupan pribadinya.
Hal aktifitas seperti ini menjadi kunci kesehatannya,asli dari daerah Bali Ubud dan mempunyai anak sampai kumpi.
Guratan wajahnya penuh dengan kebahagiaan,pengalaman hidup,pahit,manis tetapi masih tetap semangat untuk bekerja bersama waktu menjalani hari kehidupan.

Beberapa pertanyan dari pak Pek kepada saya secara spontan ingin mengetahui,bagaimana keadaan suasana di kota ,naik transportasi ke Bali,berapa biaya transportasi pesawat terbang dan bus kota , berapa jam perbedaan sampai tujuan,apakah pernah jalan-jalan ke luar negeri, apakah di Jakarta sering turun hujan, sudah punya istri atau anak,sekolah dimana waktu dulu dan asalnya dari mana. Pertanyaan pak Pek, saya jawab semua dengan ringan,penuh humor,kami berdua saling tertawa menginspirasikan desa dan kota.

Pak Pek memulai pekerjaan dari pagi hari sampai sore hari,membersihkan rumput-rumput

kecil disela padi,mengatur jalannya air dan membuang serangga penggangu yang ada di sawahnya.
Sambil mengunyah pinang di mulutnya,kita bertukar cerita tentang suasana. Pak Pek senang bekerja sebagai petani walaupun hasil yang didapat tidak begitu banyak.

Sawah yang dikerjakan bukan miliknya,hanya saja ia akan diberikan uang hasil kerjasama atas pengelolaan hasil sawah, beliau bersyukur atas apa yang didapatkan saat ini.

Bisa hidup sehat dengan udara bagus,bisa makan kenyang dan minum air sepuasnya untuk menghilangkan dahaga setelah bekerja.
Pak Pek bercerita bahwa dirinya masih kuat bekerja,menghabiskan waktunya menjadi petani menanam padi di sawah.
Setelah obrolan singkatnya,ia kembali melompat kedalam air yang mengalir lalu kembali ke sawah.

Sebelum kami melanjutkan perjalanan, Pak Pek bersalaman kembali dan bilang kepada kami untuk datang kembali ke tempat ini lalu apabila ada waktu luang,beliau mengajak kami untuk main dirumahnya.Sambil mengangkat tangan dan menunjuk arah rumahnya.
Terimakasih Pak Pek atas obrolan sorenya dan kami selalu berdoa untuk panjang umur,sehat selalu untuk kita semuanya. Sampai bertemu lagi di bangku obrolan sore.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s