Bersama Sutradara Film Dokumenter Dhaup Ageng

Film Dokumenter Dhaup Ageng Bersama Sutradara Arief Hartawan. 

Pagi hari cuaca mulai membaik,matahari mulai menyinari sebagian Jakarta. Kemacetan sudah menjadi hiasan kota,laju sepeda motor bergegas menuju tempat sutradara film dokumenter Dhaup Ageng yang dikenal dengan nama Oyikk/Arief Hartawan.
Aroma kopi memulai tanda untuk melakukan tanya-jawab kepada sutradara.
Tanya: Bagaimana pola rencana kerja sutradara dalam pembuatan karya film dokumenter ?

Jawab: Polanya adalah, kami melakukan riset terlebih dahulu mengenai pernikahan adat Jawa, bahkan Deyna sempat beli buku langka seharga ratusan ribu yang membahas pernikahan adat keraton. Saya melalui pengamatan, pengamatan dari pengalaman saat tahun 2008 Keraton Jogja mengadakan ​Pawiwahan Ageng (Royal Wedding) GRAj Nurkamnari Dewi dengan KRT Purboniningrat saya sempat membantu dokumentasi walau tidak menyeluruh.

Kami pelajari langkah demi langkah ritualnya, dan menentukan teknis perekamannya.

Tanya: Apa yang menjadi ide kreatif untuk membuat film dokumenter ?

Jawab: Ide awalnya ketika saya mengetahui akan adanya event besar dan bersejarah ini, lalu muncul pemikiran bahwa tata cara ritual agung ini pasti sarat makna, dan saya percaya bahwa belum banyak orang yang mengetahui ​makna-makna yang disematkan dalam setiap lelaku itu. Saya sebagai anak Jawa yang meraasa lupa akan kejawaan saya, ingin mengetahuinya. Karena ini warisan leluhur yang wajib dilestarikan dan diketahui, karena ini adalah identitas rakyat Jawa (terutama Yogyakarta)

Tanya: Kenapa film Dhaup Ageng (DA) bisa dikatakan film dokumenter ?

Jawab: DA bisa dikatakan sebagai film dokumenter karena tak hanya mendokumentasikan saja, tapi juga menguliti isi dari dokumentasi itu.​

Tanya: Berapa lama proses film DA ini selesai dan bisa disuguhkan ke penonton film ?

​Jawab: Mulai produksi dan ‘camera roll’ itu tahun 2011, release tahun 2013.​

Tanya: Di daerah mana saja pemutaran film DA sudah dilakukan,lalu bagaimana tanggapan dari komunitas penontonnya tentang film Dhaup Ageng ?

Jawab: Sejauh ini baru di Jogja dan di Denpasar. Saat di Jogja Premiere Releasenya di XXI dan diputar selama satu minggu penuh di bioskop. Dari laporan yang kami terima animo masyarakat cukup bagus untuk genre film dokumenter yang menceritakan ritual pernikahan. Bahkan permintaan untuk diputar ulang masih ada hingga sekarang, waktu di Denpasar itu menjawab permintaan dari teman-teman disana.
Dilaksanakan dengan cara spontan dan sangat sederhana.​ Hanya satu malam dan dengan persiapan yang mendadak berhasil mengundang puluhan penonton. Tanggapannya bagus.

Tanya: Bagaimana tanggapan dari lingkungan masyarakat Jogjakarta terhadap film Dhaup Ageng dan lingkungan keraton ?

Jawab: Sepengetahuan saya tanggapan masyarakat bagus,karena saya yakin masyarakat ingin tahu identitas mereka. Selain itu para pelaku jasa wedding​ juga perlu tahu akan filosofi ritual ini. Dari lingkungan Keraton Jogja bagus sekali tanggapannya,terbukti dengan berhasilnya film ini diproduksi.

Tanya: Apakah penting,

​ ​film Dhaup Ageng diangkat sebagai perwakilan film dokumenter kebudayaan untuk tata cara pernikahan Jawa ?


Jawab: Menurut saya penting, tata cara pernikahan tiap adat berbeda-beda, dan semestinya tiap daerah di Indonesia yang sangat kaya akan hasil budaya ini memiliki rekaman pemaknaan ritual yang masih dilaksanakan oleh masyarakat.​ Saya mulai dengan yang paling dekat dengan saya, yaitu Jogja.
Kemarin waktu di Denpasar, saya memanas-manasi teman-teman film maker disana untuk membuat hal yang sama. Saya terbayang ritual pernikahan adat Bali kan megah ya?

Gambarnya akan ‘grande’ … wuih, saya sudah terbayang visualnya sih hehehe…..
Media audio visual (film) adalah media yang tepat untuk itu, saya yakin jika film ini diputar 10 tahun kemudian, masih bisa memberikan pengetahuan pada penontonnya, pengetahuan pada generasi penerus bangsa kita.

Sejak film ini diproduksi hingga sekarang film Dhaup Ageng sudah berumur 4 tahun.

Terbayang kalau tiap daerah memiliki data mengenai filosofi upacara pernikahan masing-masing, lalu dikumpulkan jadi satu. Apa ngga minder tuh bangsa lain? … hahaha…

Tanya: Dalam proses pengerjaan karya film Dhaup Ageng,hambatan apa saja yang dihadapi seorang sutradara dalam pelaksanaannya di lapangan?

Jawab: Hambatan yang kami hadapi di lapangan seingat saya hanya sebatas ​penjadwalan saja,mengatur jadwal dengan para narasumber.

Untuk perijinan pengambilan gambar, dari pihak Keraton Yogyakarta sangat kooperatif.

Oh, ada hambatan…bukan hambatan sebenarnya ya,… tantangan pada saat pasca produksi.

Tanya: Filosofi apa saja yang dijelaskan dalam film DA menurut sudut pandang sutradara?

Jawab: Filosofi yang dijelaskan dalam film Dhaup Ageng dijelaskan oleh para narasumber valid dari akademisi kebudayaan, profesor dari UGM dan narasumber dari Keraton. Kami sebagai sutradara hanya ‘memagari’ pertanyaan agar tidak terlalu melenceng.
Jadi yang bercerita di film ini sebenarnya adalah para narasumber, bukan sutradaranya. Kami merangkum berbagai informasi itu, dan menyajikan ke penonton.

Tanya: Untuk kostum-kostum yang digunakan dalam film Dhaup Ageng apakah mempunyai simbol dan arti khusus?

Jawab: Kostum yang digunakan dalam film Dhaup Ageng akan diceritakan di film dokumenter ini, simbol dan artinya jelas khusus. Karena perhelatan agung ini kan sebagai bukti nyata bahwa Keraton Yogyakarta masih memelihara budayanya. Di film ini akan dijelaskan mengenai alis tanduk rusa (yang bercabang) itu apa maknanya?, Apa itu cengkorongan (bentuk lancip pada dahi pengantin perempuan),makna motif pada kain batik yang dikenakan pengantin, hingga kalung berbentuk tiga susun bulan. Banyak lah,… leluhur kita itu dahsyat.

Tanya: Apa harapan sutradara setelah film Dhaup Ageng ini ditonton oleh khalayak ramai?

Jawab: Harapan kami sederhana, memberikan informasi valid mengenai agungnya budaya Nusantara, kali ini dari Yogya.

Membuat masyarakat bangga dan percaya diri dengan warisan leluhur masing-masing. Jika sebuah negara,masyarakatnya sangat percaya diri, paham dan bangga akan identitasnya, apa yang akan terjadi?

Tanya: Sutradara ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada siapa setelah film Dhaup Ageng berhasil tayang?

Jawab: Jelas kepada pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang memahami dan mendukung semangat kami saat awal mengajukan ide ini.
Juga kepada seluruh masyarakat Mataram, Yogyakarta maksud saya. ​Dan kepada seluruh kru film yang semangat juangnya militan. Kalau terimakasih kepada Tuhan,itu sudah pasti.

Tanya: Pesan yang ingin disampaikan, kepada sutradara muda untuk perkembangan film dokumenter ?

Jawab: Perhatikan kehidupan disekeliling kita, rekamlah. Sampaikan itu pada dunia. Kita ini bangsa besar, kelemahan bangsa kita salah satunya adalah regenerasi. Gunakan media film sebagus mungkin.​

Tanya: Bagaimana dukungan keluarga dalam aktifitas anda sebagai sutradara film ?

Jawab: Dukungan keluarga saya sangat bagus, kami bukanlah warga asli Yogya, namun dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung. Dan keluarga saya memahami itu. Dengan ini saya juga ingin memberikan kenangan bagus pada anak saya. [fiq]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s