Surat Untuk Rimba

Salam untuk duta pariwisata  
 

 

 

“Kehidupan menjadi dewasa dan mempunyai proses tingkatan, kesenangan, kesedihan, kematian. Bersikap tunduklah pada sang pencipta penguasa alam beserta kandungan makhluk hidup-Nya.
Jangan bersikap sombong dan serakah apabila melihat suatu kesempatan untuk menjadi lebih baik. Jangan menutup mata apabila melihat kehidupan yang tidak berlandaskan keadilan. 

Katakan tidak untuk segala macam bentuk kehancuran. Jangan mengekang daya khayalan baru untuk berkembang menjadi hal yang mengagumkan.
Ingatlah bahwa dengan awal sebuah mimpi, dapat menciptakan suatu kehidupan manusia yang harmonis dan berdampingan dengan alam”.

 

Dari seorang anak pelaut Indonesia

 

Untuk siapa saja yang berkenan,

salam…..

Bagaimana kabarmu disana dengan kebudayaan daratan yang cukup luas di Indonesia ?

“Ya” cuaca beberapa bulan terakhir ini tidak dapat diperkirakan dengan baik,datangnya badai yang secara tiba-tiba di tengah lautan lepas membuat semua awak kapalku kebingungan. Apakah nun jauh mata memandang dan dekat dihati juga mengalami perubahan musim yang sama halnya dengan yang kurasakan, sahabatku ? 
Aku teringat dengan musim panen beberapa tahun lalu, sungguh luar biasa alam memberikan kita nikmat hidup tanpa harus mengais menengadahkan tangan. 

Semoga hutan rimba dan ladang-ladang tetap menjadi kekuatan rakyat kecil sahabatku,alam tidak akan memihak pada penguasa keserakahan.
Alam angkasa raya begitu indah apabila dilihat ditengah lautan biru, sahabatku.

Para bintang penguasa jagat seperti memberitakan ramalan tentang kondisi bumi yang sedang dihancurkan oleh penebang hutan belantara.
Apakah ini kesan dari pariwisata atau keserakahan manusia?.

Manusia telah lupa pada alamnya sendiri, dimana hutan rimba belantara adalah kondisi pariwisata yang tiada bandingnya dalam peradaban manusia dimuka bumi. Mereka tidak banyak belajar dari alam raya, hanya mengandalkan buku sebagai pembenaran mutlak atas sikap intelektual. Seperti inikah sikap manusia, ketika gedung-gedung tinggi sudah mulai berkembang dipertengahan kota modern. Sangat ironis sekali gambaran di desa, hutan, lautan dan angkasa rayapun menjadi lahan bisnis perekonomian. 
Ketika alam pariwisata dan bisnis budaya lokal sudah mulai terancam habis, karena aksi dari pihak pemilik modal yang menginginkan eksploitasi hutan secara besar-besaran. Mereka tidak menyadari bahwa hutan belantara suatu bagian kecil dari tempat pariwisata yang terindah dan mengagumkan.

Apakah itu sebutan bagi si orang kaya ? Membuang uang untuk menghancurkan alam.

Ataukah ini bentuk dari otoritas daerah ? Pihak penguasa kecil.
Bagaimana jadinya sebuah bangsa?Tandus sejauh mata memandang, yang hanya menjadi fatamorgana.

Inikah yang dinamakan negara berideologi?Saling membunuh untuk sepiring nasi karena alam sudah berubah menjadi gedung-gedung ideologi.
Aku pengagum berat dengan sesuatu yang bernama alam hijau dan lautan biru.

Penguasa alam sedang marah melihat aksi para manusia yang berprilaku melebihi binatang buas di alam rimba, saling berkhianat untuk menghancurkan hutan belantara, saling berperang agar dapat memuaskan nafsu sahwatnya.
Semoga saja kita sudah berada pada jalur impian, saudaraku. Aku berharap tidak salah dalam berjalan dikebudayaan yang cukup luas membentang dari barat ke timur, semoga saja tidak mengalami kesalahan untuk berpijak dari satu batu ke batu yang lain hingga sampai pada sebuah goa peradaban yang menggambarkan kisah kehidupan budaya pariwisata.
Aku akan menunggu suratmu,sampai nanti sahabatku.

Bersambung,,[fiq]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s